SMPN 2 Karangreja Perkuat Pembelajaran STEM untuk Asah Nalar Murid

 


NALARNEWS.COM – SMP Negeri 2 Karangreja, Purbalingga, memperkuat pembelajaran intrakurikuler dan kokurikuler berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) melalui In House Training (IHT), Selasa (29/9/2026). Kegiatan yang digelar di Laboratorium Komputer SMP Negeri 2 Karangreja pukul 10.00–12.30 WIB itu diikuti 25 guru dengan menghadirkan Bangun Pracoyo, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber.

IHT bertema “Program Intrakurikuler dan Kokurikuler STEM” tersebut digelar untuk meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran kontekstual yang mendorong murid mengamati persoalan, melakukan investigasi, menguji gagasan, menganalisis hasil, dan menemukan solusi. Penguatan ini dilakukan agar pendekatan STEM tidak sekadar menghasilkan produk, tetapi juga menjadi sarana melatih kemampuan bernalar murid.

Kepala SMP Negeri 2 Karangreja, Febri Prasetyo Adi, S.Pd.I., mengatakan pengembangan pembelajaran berbasis STEM di sekolah tersebut telah mulai dirintis melalui kegiatan kokurikuler berbasis proyek.

“Sekolah terus mengembangkan pembelajaran berbasis STEM,” kata Febri.

Salah satu bentuk penerapannya dilakukan melalui proyek pembuatan rancang bangun sederhana menggunakan stik es krim. Murid antara lain membuat kincir angin, jembatan, dan rumah.

Proses pembelajaran tidak berhenti ketika produk selesai dibuat. Murid juga diminta menguji hasil rancangannya untuk mengetahui kekuatan dan fungsi produk tersebut.

Pada proyek pembuatan jembatan, misalnya, murid menguji kekuatan konstruksi dengan memberikan beban berupa botol berisi air. Hasil pengujian kemudian dapat diamati dan dianalisis untuk mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.

“Anak-anak belajar mengamati dan menguji produknya,” ujarnya.

 

STEM Berangkat dari Masalah Nyata

Dalam pemaparannya, Bangun Pracoyo menjelaskan bahwa pembelajaran STEM dapat dikembangkan dari berbagai persoalan nyata yang ditemui murid dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan sekolah.

“Masalah nyata bisa menjadi konteks pembelajaran STEM,” tutur Bangun.

Menurutnya, pembelajaran STEM tidak sekadar berorientasi pada pembuatan produk. Murid perlu dilibatkan dalam keseluruhan proses, mulai dari memahami masalah, mencari informasi, melakukan investigasi, menyusun dugaan, melakukan percobaan, menganalisis hasil, hingga merefleksikan solusi.

Dengan pendekatan tersebut, persoalan yang berada di sekitar murid dapat menjadi bahan pembelajaran. Murid tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi terlibat langsung dalam proses menemukan dan menguji solusi.

 

Tidak Harus Menggunakan Teknologi Mahal

Bangun juga menekankan bahwa penerapan STEM tidak harus menggunakan peralatan mahal atau teknologi yang kompleks.

“STEM dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah,” jelas Bangun.

SMP Negeri 2 Karangreja dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki, mulai dari kompetensi guru dan murid, sarana prasarana, hingga lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Persoalan sederhana di sekitar sekolah dapat dikembangkan menjadi bahan investigasi. Guru dapat mendorong murid untuk bertanya, mengamati, mencoba, menguji, menemukan solusi, dan melakukan refleksi berdasarkan hasil yang diperoleh.

 

Perkuat Kemampuan Bernalar

Rangkaian proses tersebut memberikan ruang bagi murid untuk mengembangkan kemampuan bernalar. Kegiatan investigasi, pengolahan data, analisis informasi, pengujian dugaan, hingga penarikan kesimpulan menjadi bagian dari pengalaman belajar.

Kemampuan tersebut juga relevan dengan kebutuhan murid dalam menghadapi berbagai bentuk asesmen, termasuk Tes Kompetensi Akademik (TKA).

Melalui IHT ini, para guru tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai konsep STEM, tetapi juga menggali peluang penerapannya dalam pembelajaran intrakurikuler dan kokurikuler.

Sekolah berharap penguatan tersebut menjadi langkah awal untuk semakin mengintegrasikan STEM dalam perencanaan pembelajaran dan kegiatan kokurikuler berbasis proyek.

Dengan demikian, pembelajaran STEM di SMP Negeri 2 Karangreja diarahkan bukan sekadar untuk membuat karya, melainkan membangun pengalaman belajar yang membuat murid terbiasa menghadapi masalah, mencari bukti, menguji solusi, dan belajar dari hasil yang diperoleh.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama