NALARNEWS.COM – Kehidupan bertetangga sering kali
dianggap sebagai persoalan sederhana. Padahal, dari hubungan dengan tetangga,
kualitas akhlak dan kepedulian sosial seseorang justru banyak diuji.
Pesan itulah yang mengemuka dalam kajian
keislaman yang digelar Pengurus Cabang Ikatan Dai Indonesia (PC Ikadi)
Kecamatan Rembang di Masjid Al Falah, Dusun Pasedahan, Desa Losari, Kecamatan
Rembang, Purbalingga, Sabtu (3/10/2026) malam.
Sekitar 60 jemaah hadir dalam kajian
yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut. Tema yang diangkat, “Adab Bertetangga
dalam Islam”, terasa dekat dengan kehidupan masyarakat karena hampir setiap
persoalan sosial bermula dari bagaimana seseorang membangun hubungan dengan
orang-orang di sekitarnya.
Pemateri, Ustadz Taryudi, Lc., M.Ag.,
mengajak jemaah melihat kembali pesan Rasulullah SAW tentang bagaimana seorang
Muslim seharusnya menjalani kehidupan.
Salah satu pesan yang ditekankan adalah
berbuat baik kepada tetangga.
Menurutnya, kesalehan seseorang tidak
cukup hanya diukur dari hubungan vertikal dengan Allah SWT. Kesalehan juga
tercermin dari bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain, terutama mereka
yang hidup paling dekat dengannya.
“Tetangga adalah orang yang paling dekat
dengan kehidupan sosial kita. Karena itu, menjaga hubungan baik dengan tetangga
menjadi bagian penting dari kesempurnaan iman,” menjadi pesan utama yang
mengemuka dalam kajian tersebut.
Lima Bekal Menjadi Muslim yang Lebih
Baik
Dalam kajiannya, Ustadz Taryudi
menguraikan lima nasihat Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits
Riwayat Tirmidzi.
Pertama, meninggalkan perkara yang haram
agar menjadi orang yang baik ibadahnya dan bertakwa.
Kedua, memiliki sikap ridha dan qanaah
terhadap apa yang telah Allah SWT berikan sehingga seseorang memiliki kekayaan
hati.
Ketiga, berbuat baik kepada tetangga
sebagai bagian dari kesempurnaan iman.
Keempat, mencintai untuk orang lain apa
yang dicintai untuk dirinya sendiri.
Kelima, menjaga diri dari berlebihan
dalam tertawa karena hati yang terlalu larut dalam kesenangan dapat kehilangan
kepekaan spiritual.
Lima pesan tersebut menunjukkan bahwa
Islam memberikan perhatian besar terhadap pembentukan karakter. Ibadah tidak
berhenti pada ritual, tetapi harus melahirkan perilaku yang membawa manfaat
bagi orang lain.
Dari Persoalan Tetangga hingga Kemarau
Pesan tentang kepedulian sosial tersebut
semakin terasa ketika kajian memasuki sesi tanya jawab.
Jemaah tidak hanya bertanya mengenai
persoalan keagamaan secara umum, tetapi juga mengangkat berbagai persoalan yang
berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana menghadapi dinamika
hubungan dengan tetangga.
Diskusi berlangsung interaktif. Jemaah
mendapatkan ruang untuk menghubungkan nilai-nilai agama dengan realitas
kehidupan mereka. Konteks kepedulian sosial juga terasa kuat pada akhir
kegiatan.
Wilayah Rembang dan sekitarnya saat ini
menghadapi musim kemarau panjang. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air
menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat.
Karena itu, sebelum kegiatan berakhir,
Ustadz Taryudi memimpin doa bersama. Jemaah secara khusus memanjatkan doa
Istisqa, memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan.
Doa tersebut bukan hanya untuk
kepentingan pribadi, tetapi juga menjadi doa bersama agar kebutuhan air warga
terpenuhi dan lahan pertanian kembali mendapatkan sumber air.
Ikadi Perkuat Dakwah Berbasis Masyarakat
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua
PC Ikadi Kecamatan Rembang, Condro H. Mulyono, serta sejumlah pengurus Ikadi
Purbalingga.
Hadir pula Ganang Waluyo selaku Ketua
Bidang Al-Qur'an PD Ikadi, Amin Waluyo, Lutfi Amrullah selaku Ketua PC Ikadi
Kaligondang, dan Hengky Irawan selaku Sekretaris PD Ikadi.
Tokoh masyarakat dan pengurus Ranting
Muhammadiyah dari Desa Losari serta Desa Gunungwuled juga hadir dalam kegiatan
tersebut.
Kehadiran berbagai unsur tersebut
menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dapat menjadi ruang bersama untuk
memperkuat silaturahmi dan membangun kepedulian lintas elemen masyarakat.
Ketua Takmir Masjid Jami Al Falah, H.
Musirin, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan
kepercayaan menjadikan Masjid Al Falah sebagai lokasi kajian.
Kegiatan dipandu Ustadz Arif dari PC
Ikadi Rembang sebagai pembawa acara. Kajian kemudian ditutup dengan doa bersama
dalam suasana khusyuk.
Bagi masyarakat, hujan yang diharapkan
bukan sekadar persoalan cuaca. Turunnya hujan berarti tersedianya air untuk
kebutuhan sehari-hari, pertanian dan keberlangsungan aktivitas warga.
Sementara bagi Ikadi, pesan yang
disampaikan dalam kajian menjadi pengingat bahwa keberagamaan seharusnya
menghadirkan ketenangan dan kemanfaatan di tengah masyarakat.
Sebab, iman yang baik tidak hanya
terlihat ketika seseorang berada di dalam masjid, tetapi juga ketika ia kembali
ke rumah dan mampu menjadi tetangga yang baik bagi orang-orang di sekitarnya.

Posting Komentar