SEMARANG, NALARNEWS.COM – Menteri
Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa
pelestarian bahasa daerah merupakan bagian penting dari upaya menjaga identitas
dan kebudayaan bangsa. Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Festival
Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 di Kabupaten
Semarang, Jumat (9/10/2026). Festival yang berlangsung hingga 11 Oktober 2026
ini diikuti 490 siswa jenjang SD dan SMP dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah.
Kegiatan yang diselenggarakan di Balai
Bahasa Provinsi Jawa Tengah dan Universitas Ngudi Waluyo tersebut menjadi
bagian dari program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam
perlindungan dan revitalisasi bahasa daerah. Melalui festival ini, pemerintah
mendorong generasi muda untuk tidak hanya mengenal bahasa ibu, tetapi juga
bangga menggunakan dan melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti
mengingatkan bahwa bahasa merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan
nasional. Kebudayaan lahir dari cipta, rasa, dan karsa suatu bangsa, kemudian
diwariskan melalui berbagai bentuk ekspresi, seperti seni, tarian, tembang
macapat, dan bahasa.
“Bahasa menunjukkan bangsa,” tegas Abdul
Mu’ti.
Ia menjelaskan bahwa bahasa tidak
sekadar menjadi alat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga mencerminkan cara
berpikir, nilai-nilai, serta karakter masyarakat yang menggunakannya.
Menurutnya, terdapat tiga aspek penting yang perlu diperhatikan dalam berbahasa,
yakni kosakata, rasa bahasa, serta tata krama atau keadaban dalam berbahasa.
“Dalam bahasa ada tiga aspek yang
penting, yaitu kosakata, rasa bahasa, dan tata krama atau keadaban dalam
bahasa,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurutnya, pemahaman terhadap ketiga
aspek tersebut penting ditanamkan sejak dini melalui pendidikan. Dengan begitu,
peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan berbahasa yang baik, tetapi juga
memahami kesantunan dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Abdul Mu’ti juga menekankan bahwa
pendidikan memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan bahasa
daerah. Sekolah menjadi ruang penting untuk memperkenalkan bahasa ibu,
mengembangkan keterampilan berbahasa dan bersastra, serta menumbuhkan kebanggaan
peserta didik terhadap warisan budaya daerahnya.
“Pendidikan merupakan salah satu sarana
untuk pelestarian bahasa. Karena itu, kreativitas seperti ini perlu terus
dikembangkan untuk melestarikan bahasa daerah dan mempertahankan identitas
bangsa,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pelestarian bahasa
daerah harus berjalan seiring dengan penguatan bahasa Indonesia dan penguasaan
bahasa asing. Ketiganya memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda
yang berakar pada budaya bangsa sekaligus mampu menghadapi perkembangan global.
Semangat tersebut sejalan dengan
trigatra bangun bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan
bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa
Tengah Taj Yasin Maimoen menyoroti pentingnya bahasa Jawa sebagai sarana
pembentukan karakter dan penanaman nilai kesantunan. Menurutnya, bahasa Jawa
memiliki unggah-ungguh atau tata krama yang mengajarkan seseorang untuk
menghormati orang lain melalui pilihan kata dan cara berbicara.
“Bahasa Jawa itu tidak hanya mengajarkan
kita berbicara, tetapi di dalamnya terdapat unggah-ungguh dan akhlak,” tutur
Taj Yasin.
Ia menjelaskan, penggunaan bahasa Jawa
kepada orang yang lebih tua tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Terdapat
tingkatan bahasa dan pilihan kata yang mencerminkan rasa hormat kepada lawan
bicara. Nilai-nilai tersebut menjadi kekayaan budaya yang perlu dipahami dan
diterapkan oleh generasi muda.
Oleh karena itu, Taj Yasin mendorong
agar pembiasaan berbahasa Jawa secara santun terus diperkuat, baik di
lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Pelestarian bahasa daerah,
menurutnya, tidak cukup hanya dengan mengajarkannya sebagai materi pelajaran,
tetapi juga harus diwujudkan dalam praktik komunikasi sehari-hari.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafid Muksin menjelaskan bahwa Festival Tunas
Bahasa Ibu merupakan kegiatan puncak program prioritas Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah dalam perlindungan dan revitalisasi bahasa daerah.
Ia menyampaikan bahwa festival ini
memiliki empat tujuan utama. Pertama, menumbuhkan kecintaan peserta didik
terhadap bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa. Kedua, membangun rasa bangga dan
percaya diri dalam menggunakan bahasa ibu di lingkungan keluarga, sekolah, dan
masyarakat.
Ketiga, mengembangkan kemampuan
berbahasa dan bersastra daerah melalui berbagai cabang perlombaan. Keempat,
melahirkan generasi muda yang berkomitmen menjadi penerus pelestarian bahasa
ibu dan nilai-nilai budaya bangsa.
Melalui FTBI, peserta didik memperoleh
kesempatan untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, dan kecintaan mereka
terhadap bahasa daerah. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran yang
mendorong bahasa dan sastra daerah tetap relevan bagi generasi muda.
Dengan melibatkan 490 siswa dari 35
kabupaten/kota, FTBI Jawa Tengah 2026 diharapkan mampu memperkuat gerakan
pelestarian bahasa daerah di satuan pendidikan. Dukungan guru, orang tua,
pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi faktor penting agar penggunaan bahasa
ibu terus tumbuh dan berkembang.
Festival ini menegaskan bahwa kemajuan
pendidikan tidak harus menjauhkan generasi muda dari akar budayanya.
Sebaliknya, penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa asing dapat berjalan
beriringan dengan kecintaan terhadap bahasa daerah.
Melalui semangat mengutamakan bahasa
Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing, FTBI Jawa
Tengah 2026 diharapkan melahirkan generasi yang cakap berbahasa, santun dalam
bertutur, serta bangga terhadap identitas dan kebudayaan bangsa.
.jpeg)



Posting Komentar