NALARNEWS.COM – Ketika prestasi belajar anak menurun,
orang tua diminta tidak terburu-buru melabeli anak sebagai malas atau tidak
mampu. Penurunan nilai justru perlu dibaca sebagai tanda bahwa anak mungkin
sedang menghadapi kesulitan yang membutuhkan pemahaman dan pendampingan. Pesan
tersebut menjadi sorotan utama dalam kegiatan Smart Parenting SD Muhammadiyah 1
Purbalingga yang digelar bagi wali siswa kelas I-VI, Ahad (4/10/2026), di
Gedung Kesenian SMK Muhammadiyah Bobotsari.
Mengangkat tema “Pendekatan Pedagogis
Orang Tua Saat Anak Mengalami Kemunduran Belajar”, kegiatan yang berlangsung
pukul 09.00-10.00 WIB itu menghadirkan Nokman Riyanto, S.Pd.Si., M.Pd., sebagai
narasumber. Melalui kegiatan tersebut, sekolah mendorong orang tua mengubah
cara merespons kemunduran belajar anak, dari sekadar menuntut peningkatan nilai
menjadi upaya memahami penyebab, mendampingi proses, dan membangun kembali
kepercayaan diri anak.
Kepala SD Muhammadiyah 1 Purbalingga,
Pujiati, S.Pd., mengatakan kemitraan antara sekolah dan keluarga menjadi kunci
dalam mendampingi perkembangan anak, terutama ketika anak menghadapi persoalan
dalam belajar.
“Kami ingin orang tua tidak hanya
melihat keberhasilan anak dari nilai atau prestasi akademiknya. Ketika anak
mengalami penurunan belajar, orang tua perlu memahami penyebabnya, mendengarkan
anak, kemudian memberikan pendampingan yang tepat,” kata Pujiati.
Nokman mengatakan, kemunduran belajar
tidak selalu identik dengan kemalasan. Ada kemungkinan anak mengalami kesulitan
memahami materi, kehilangan motivasi, menghadapi persoalan emosional, mengalami
kelelahan, atau membutuhkan strategi belajar yang berbeda.
“Ketika prestasi anak menurun, jangan
buru-buru memberikan label malas, bodoh, atau tidak mampu. Kita perlu bertanya
terlebih dahulu, apa yang sedang dialami anak dan bagian mana yang membuatnya
mengalami kesulitan,” ujar Nokman.
Menurutnya, orang tua perlu menjalankan
lima tahapan dalam mendampingi anak, yakni melihat, mendengarkan, memahami,
mendampingi, dan mengarahkan. Pendekatan tersebut menempatkan orang tua bukan
sekadar sebagai pengawas belajar, tetapi sebagai pendamping, fasilitator,
motivator, sekaligus teladan.
“Anak yang sedang mengalami kesulitan
belajar membutuhkan pendampingan, bukan pelabelan. Yang perlu kita bangun
adalah kepercayaan diri anak bahwa dia mungkin belum bisa, tetapi masih dapat
belajar dan berkembang,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, Nokman juga
mengajak orang tua membangun growth mindset pada anak dengan membiasakan
penggunaan kata “belum” daripada “tidak bisa”. Anak perlu diberi ruang untuk
melakukan kesalahan, mencoba kembali, dan memahami bahwa kemampuan dapat
berkembang melalui usaha, strategi, dan ketekunan.
Pendekatan tersebut kemudian diperkuat
dengan nilai pendidikan Islam dan karakter. Orang tua diajak memandang anak
sebagai amanah, mendidik dengan rahmah atau kasih sayang, serta menghadirkan
uswah atau keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pendidikan anak tidak berhenti pada
pencapaian akademik. Kita ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang beriman,
berilmu, berakhlak, mandiri, dan bertanggung jawab. Karena itu, orang tua perlu
menjadi uswah atau teladan pertama bagi anak,” ungkap Nokman.
Ia juga menekankan pentingnya membangun
rumah sebagai lingkungan pendidikan pertama. Kebiasaan belajar, ibadah,
kedisiplinan, tanggung jawab, komunikasi, dan cara orang tua menghadapi masalah
akan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter anak.
Kegiatan Smart Parenting tersebut
diharapkan memperkuat sinergi antara SD Muhammadiyah 1 Purbalingga dan keluarga
dalam menghadapi berbagai dinamika perkembangan peserta didik. Sekolah dan
orang tua didorong untuk tidak saling menyalahkan ketika prestasi anak menurun,
melainkan bersama-sama mencari akar masalah dan menentukan bentuk pendampingan
yang sesuai.
Sebab, ketika nilai anak turun, yang
perlu diselamatkan bukan hanya nilainya, tetapi juga semangat belajar,
kepercayaan diri, karakter, dan masa depannya.

Posting Komentar