Oleh: Nokman Riyanto, S.Pd.Si., M.Pd.
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga
Di tengah dinamika pendidikan yang
semakin kompleks, keberhasilan sekolah tidak cukup diukur dari capaian
akademik, nilai rapor, atau prestasi yang diraih murid dalam berbagai
kompetisi. Ada aspek mendasar yang tidak boleh diabaikan, yaitu sejauh mana sekolah
mampu menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan membuat setiap murid
merasa diterima. Sebab, pendidikan yang berkualitas tidak hanya berbicara
tentang seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai, tetapi juga tentang
bagaimana murid tumbuh, berkembang, dan merasa bahagia dalam proses belajar.
Berbagai tantangan masih dihadapi dunia
pendidikan, mulai dari perundungan, kekerasan di lingkungan satuan pendidikan,
diskriminasi, tekanan akademik, hingga persoalan kesehatan mental anak.
Perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan baru berupa
perundungan siber, penyebaran konten negatif, serta interaksi sosial yang
terkadang mengabaikan empati dan penghormatan terhadap sesama.
Dalam situasi tersebut, sekolah memiliki
tanggung jawab yang semakin besar. Sekolah bukan sekadar tempat untuk
mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan ruang tumbuh yang membentuk karakter,
membangun kepercayaan diri, dan menumbuhkan rasa aman bagi setiap murid.
Lingkungan sekolah yang positif menjadi prasyarat agar proses pembelajaran
dapat berlangsung secara optimal.
Pendidikan pada hakikatnya harus
memanusiakan manusia. Setiap murid memiliki hak untuk belajar tanpa rasa takut,
menyampaikan pendapat tanpa khawatir direndahkan, serta memperoleh perlakuan
yang adil tanpa diskriminasi. Ketika prinsip-prinsip tersebut benar-benar hadir
dalam kehidupan sekolah, pendidikan tidak hanya menghasilkan murid yang cerdas,
tetapi juga generasi yang sehat secara sosial dan emosional.
Sekolah sebagai Ruang Aman untuk
Bertumbuh
Sekolah merupakan lingkungan kedua yang
memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak setelah keluarga. Di
sekolah, murid tidak hanya mempelajari matematika, bahasa, sains, dan berbagai
mata pelajaran lainnya. Mereka juga belajar membangun pertemanan, mengelola
emosi, menghadapi perbedaan, menyelesaikan konflik, serta memahami konsekuensi
dari setiap tindakan.
Pengalaman yang diperoleh murid di
sekolah akan membentuk cara mereka memandang diri sendiri dan lingkungan
sekitarnya. Ketika sekolah memberikan rasa aman, murid akan lebih berani
bertanya, mengemukakan pendapat, mencoba hal baru, dan mengakui kesalahan tanpa
takut dipermalukan. Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi ancaman, ejekan, atau
perlakuan tidak adil dapat membuat murid kehilangan kepercayaan diri dan
mengalami hambatan dalam belajar.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
menempatkan kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesejahteraan manusia.
Dalam konteks pendidikan, perhatian terhadap kesejahteraan psikologis murid
menjadi relevan karena kondisi emosional berpengaruh terhadap kemampuan mereka
berkonsentrasi, berinteraksi, dan mengikuti pembelajaran.
Sekolah yang aman bukan berarti sekolah
tanpa masalah. Perbedaan pendapat, konflik pertemanan, dan kesulitan belajar
merupakan bagian dari proses perkembangan anak. Hal yang membedakan sekolah
yang sehat dengan sekolah yang bermasalah adalah bagaimana persoalan tersebut
dikenali, ditangani, dan diselesaikan secara adil serta mendidik.
Karena itu, keamanan sekolah perlu
dipahami secara menyeluruh. Keamanan bukan hanya berkaitan dengan bangunan yang
kokoh, pagar yang memadai, atau lingkungan yang terhindar dari bahaya fisik.
Lebih dari itu, keamanan mencakup perlindungan dari kekerasan fisik dan verbal,
perundungan, pelecehan, diskriminasi, serta tekanan psikologis yang dapat
mengganggu perkembangan murid.
Setiap anak harus merasa bahwa sekolah
adalah tempat yang dapat dipercaya. Ketika menghadapi masalah, mereka
mengetahui kepada siapa harus bercerita dan yakin bahwa pengaduannya akan
ditanggapi secara serius. Rasa percaya semacam ini menjadi modal penting dalam
membangun budaya sekolah yang sehat.
Menghentikan Perundungan, Membangun
Budaya Saling Menghargai
Salah satu persoalan yang perlu mendapat
perhatian serius adalah perundungan atau bullying. Perundungan tidak selalu
hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Ejekan yang merendahkan, pemberian julukan
yang menyakitkan, pengucilan dari kelompok pertemanan, ancaman, hingga
penghinaan melalui media sosial juga dapat melukai perasaan dan harga diri anak.
Dalam kehidupan sehari-hari, tindakan
tersebut terkadang dianggap sebagai candaan biasa. Pelaku mungkin merasa tidak
melakukan kesalahan karena menganggap tindakannya sekadar gurauan. Padahal,
bagi murid yang menjadi sasaran, pengalaman tersebut dapat menimbulkan rasa
malu, takut, kesepian, bahkan keengganan untuk datang ke sekolah.
Persoalan ini menunjukkan bahwa
membangun sekolah yang aman tidak cukup dilakukan melalui pemasangan slogan
antiperundungan atau penyelenggaraan kegiatan seremonial. Diperlukan perubahan
budaya yang menempatkan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai nilai
bersama.
Setiap warga sekolah perlu memahami
bahwa perbedaan kondisi fisik, kemampuan akademik, latar belakang keluarga,
kondisi ekonomi, maupun karakter pribadi tidak boleh menjadi alasan untuk
merendahkan orang lain. Sekolah harus menjadi tempat yang mengajarkan bahwa
setiap anak memiliki nilai dan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Upaya pencegahan perlu dilakukan secara
sistematis melalui edukasi tentang perundungan, penguatan pengawasan pada area
yang rawan, penyediaan mekanisme pengaduan yang aman, serta penanganan laporan
secara cepat dan proporsional. Murid juga perlu diberi pemahaman mengenai peran
saksi. Diam ketika melihat teman mengalami perundungan dapat membuat korban
semakin merasa sendirian, sedangkan keberanian mencari bantuan dari orang
dewasa yang dipercaya dapat menjadi langkah penting untuk menghentikan tindakan
tersebut.
Penanganan perundungan harus tetap
mengutamakan keselamatan dan pemulihan korban, sekaligus memastikan
pertanggungjawaban pelaku melalui pendekatan yang mendidik sesuai ketentuan
yang berlaku. Pendekatan ini bukan berarti membenarkan tindakan pelaku, melainkan
memastikan bahwa penyelesaian masalah tidak justru melahirkan kekerasan baru.
Budaya saling menghargai akan tumbuh
ketika seluruh warga sekolah memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk
bermusuhan. Dari kebiasaan sederhana, seperti mendengarkan pendapat teman,
meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan membantu murid yang mengalami
kesulitan, sekolah dapat membangun lingkungan yang lebih manusiawi.
Kebahagiaan Murid sebagai Bagian dari
Pembelajaran Berkualitas
Dalam praktik pendidikan, kebahagiaan
murid terkadang dipandang sebagai persoalan tambahan yang baru diperhatikan
setelah target akademik terpenuhi. Padahal, perasaan aman, diterima, dan
dihargai merupakan bagian penting dari pengalaman belajar.
Murid yang merasa nyaman di sekolah
cenderung memiliki keberanian untuk terlibat dalam pembelajaran. Mereka tidak
takut bertanya ketika belum memahami materi, lebih terbuka menerima masukan,
dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi sesuai kemampuan
masing-masing. Sebaliknya, murid yang terus-menerus mengalami tekanan atau
merasa tidak dihargai dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi dan kehilangan
motivasi belajar.
Hal ini tidak berarti bahwa sekolah
harus menghilangkan disiplin, tuntutan belajar, atau evaluasi akademik.
Pendidikan tetap membutuhkan standar, tanggung jawab, dan usaha yang
sungguh-sungguh. Namun, semua itu perlu dijalankan secara proporsional dengan
mempertimbangkan tahap perkembangan dan kebutuhan murid.
Tantangannya adalah membangun keseimbangan
antara pencapaian akademik dan kesejahteraan anak. Sekolah perlu memastikan
bahwa target pembelajaran tidak berubah menjadi tekanan yang berlebihan.
Penilaian seharusnya menjadi sarana untuk mengetahui perkembangan dan
memperbaiki proses belajar, bukan sekadar alat untuk membandingkan murid satu
dengan lainnya.
Dalam konteks ini, pembelajaran mendalam
menjadi relevan karena menekankan proses belajar yang bermakna, keterlibatan
aktif, serta pemahaman yang tidak berhenti pada hafalan. Murid perlu
mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi gagasan, berdiskusi, berkolaborasi,
dan merefleksikan pengalaman belajar. Proses tersebut akan lebih mudah
berkembang ketika suasana kelas mendukung keberanian mencoba dan tidak
menjadikan kesalahan sebagai bahan ejekan.
Guru memiliki peran penting dalam
menciptakan suasana tersebut. Kalimat sederhana yang memberikan apresiasi,
umpan balik yang membangun, serta kesediaan mendengarkan kesulitan murid dapat
memberikan pengaruh besar terhadap kepercayaan diri mereka.
Kebahagiaan dalam pendidikan bukan
berarti murid harus selalu merasa senang atau terbebas dari tantangan.
Kebahagiaan lebih tepat dipahami sebagai pengalaman belajar ketika murid merasa
aman, memiliki tujuan, mendapatkan dukungan, dan melihat dirinya mampu
berkembang. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi tempat yang menumbuhkan
semangat belajar sekaligus membangun ketangguhan menghadapi kesulitan.
Guru sebagai Teladan dan Penjaga Iklim
Sekolah
Dalam membangun sekolah yang aman dan
menyenangkan, guru memegang peran yang sangat strategis. Guru bukan hanya
penyampai materi pelajaran, tetapi juga figur yang diamati murid dalam memahami
cara memperlakukan orang lain.
Cara guru menegur, memberikan penilaian,
menyelesaikan perselisihan, dan merespons kesalahan akan membentuk pengalaman
sosial murid. Ketika guru memperlakukan setiap anak secara adil, murid belajar
tentang keadilan. Ketika guru mendengarkan pendapat tanpa merendahkan, murid
belajar menghargai orang lain. Ketika guru mampu mengendalikan emosi dalam
menghadapi situasi sulit, murid mendapatkan contoh nyata tentang kedewasaan.
Sebaliknya, pendekatan yang
mempermalukan murid di depan teman-temannya, memberikan label negatif, atau
membandingkan kemampuan anak secara tidak bijaksana dapat merusak rasa percaya
diri. Disiplin memang diperlukan, tetapi penerapannya harus berorientasi pada
pembentukan perilaku dan tanggung jawab, bukan pada penghukuman yang
merendahkan martabat anak.
Guru juga perlu memiliki kepekaan
terhadap perubahan perilaku murid. Anak yang biasanya aktif kemudian menjadi
pendiam, sering tidak masuk sekolah, menarik diri dari pergaulan, atau
menunjukkan penurunan semangat belajar mungkin sedang menghadapi persoalan yang
membutuhkan perhatian. Perubahan tersebut tidak selalu menunjukkan adanya
masalah serius, tetapi layak menjadi alasan untuk melakukan pendekatan secara
bijaksana.
Dalam kondisi demikian, guru tidak harus
menyelesaikan seluruh persoalan seorang diri. Sekolah perlu memperkuat
mekanisme koordinasi antara wali kelas, kepala sekolah, guru bimbingan dan
konseling sesuai jenjang, orang tua, serta tenaga profesional apabila
diperlukan. Dengan dukungan yang tepat, persoalan murid dapat ditangani lebih
dini sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks.
Kepala sekolah juga memiliki tanggung
jawab untuk membangun budaya kerja yang mendukung perlindungan murid. Kebijakan
yang jelas, pembagian tanggung jawab, penguatan kompetensi guru, serta evaluasi
iklim sekolah perlu menjadi bagian dari kepemimpinan pembelajaran. Sekolah yang
aman tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari komitmen dan tata kelola yang
dijalankan secara konsisten.
Kolaborasi Keluarga, Sekolah, dan
Pemerintah
Mewujudkan sekolah yang aman dan
membahagiakan tidak dapat dibebankan kepada guru atau kepala sekolah semata.
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan
keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Keluarga menjadi lingkungan pertama
tempat anak belajar mengenali emosi, membangun hubungan, dan memahami batasan
perilaku. Orang tua perlu membiasakan komunikasi terbuka agar anak merasa
nyaman menceritakan pengalaman yang dialaminya di sekolah. Ketika anak
mengungkapkan persoalan, orang tua sebaiknya mendengarkan terlebih dahulu,
menghindari respons yang menyalahkan, dan bekerja sama dengan sekolah untuk
mencari penyelesaian.
Di sisi lain, sekolah perlu membangun
komunikasi yang terbuka dengan orang tua. Informasi mengenai perkembangan anak,
perubahan perilaku, maupun persoalan pergaulan perlu disampaikan secara
proporsional dan menjaga kerahasiaan. Kemitraan yang baik akan membantu
memastikan bahwa anak memperoleh dukungan yang konsisten, baik di rumah maupun
di sekolah.
Pemerintah daerah juga mempunyai peran
penting dalam memastikan kebijakan perlindungan murid diterapkan secara nyata.
Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan kapasitas satuan
pendidikan, pendampingan terhadap sekolah, koordinasi lintas perangkat daerah,
serta pemantauan pelaksanaan kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan.
Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023
pernah menjadi salah satu landasan kebijakan pencegahan dan penanganan
kekerasan di lingkungan satuan pendidikan. Dalam penerapan kebijakan saat ini,
satuan pendidikan perlu merujuk pada peraturan yang berlaku, termasuk
Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Kerangka kebijakan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam praktik yang sesuai
dengan kebutuhan dan kondisi setiap sekolah.
Selain itu, perhatian terhadap sekolah
yang aman harus mencakup kondisi fisik dan sosial. Bangunan yang layak,
sanitasi yang memadai, akses air bersih, lingkungan yang ramah bagi penyandang
disabilitas, serta ruang belajar yang nyaman merupakan bagian dari upaya
melindungi murid. Demikian pula, budaya komunikasi yang sehat, penghormatan
terhadap perbedaan, dan tersedianya mekanisme penanganan masalah menjadi unsur
yang tidak terpisahkan.
Bagi pemerintah daerah, tantangannya
adalah memastikan bahwa perhatian terhadap keselamatan dan kesejahteraan murid
tidak berhenti pada dokumen kebijakan. Pelaksanaan di lapangan perlu dievaluasi
secara berkala dengan melihat kondisi nyata, mendengarkan suara murid, dan
menindaklanjuti persoalan yang ditemukan. Kebijakan yang baik adalah kebijakan
yang dirasakan manfaatnya oleh warga sekolah.
Dari Sekolah yang Aman Menuju Pendidikan
Berkualitas
Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak
hanya ditentukan oleh kurikulum yang baik, kecanggihan teknologi, kelengkapan
sarana, atau tingginya capaian akademik. Semua unsur tersebut penting, tetapi
manfaatnya akan lebih optimal apabila didukung oleh lingkungan belajar yang
aman, inklusif, dan menghargai martabat setiap murid.
Sekolah yang aman memberikan ruang bagi
anak untuk belajar tanpa rasa takut. Sekolah yang nyaman mendorong mereka untuk
berani mencoba. Sekolah yang inklusif memastikan bahwa setiap anak, dengan
segala perbedaan dan kebutuhannya, memiliki kesempatan untuk berkembang.
Sementara itu, sekolah yang membahagiakan menumbuhkan keyakinan bahwa belajar
merupakan proses yang bermakna dan layak dijalani dengan penuh semangat.
Membangun lingkungan seperti ini memang
bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Diperlukan
perubahan cara pandang, keteladanan, konsistensi kebijakan, serta kerja sama
seluruh pihak. Namun, perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah
sederhana: menghentikan ejekan, mendengarkan keluhan murid, memberikan teguran
tanpa mempermalukan, serta memastikan setiap laporan kekerasan ditangani secara
serius.
Keberhasilan sekolah seharusnya tidak
hanya terlihat ketika murid meraih juara atau memperoleh nilai tinggi.
Keberhasilan juga tercermin ketika anak merasa diterima, berani mengemukakan
pendapat, mampu menghargai teman, dan datang ke sekolah tanpa dihantui rasa
takut.
Pendidikan yang berkualitas pada
hakikatnya adalah pendidikan yang memberi kesempatan kepada setiap anak untuk
tumbuh secara utuh. Kecerdasan perlu berjalan beriringan dengan kesehatan
emosional, karakter, dan kemampuan membangun hubungan yang baik dengan sesama.
Karena itu, sekolah yang aman dan murid
yang bahagia bukanlah cita-cita tambahan di luar agenda peningkatan mutu
pendidikan. Keduanya justru merupakan fondasi yang memungkinkan seluruh proses
pendidikan mencapai tujuannya. Ketika sekolah mampu menghadirkan rasa aman,
menumbuhkan kebahagiaan, dan menghargai setiap potensi anak, di situlah
pendidikan benar-benar menjadi jalan untuk membangun generasi yang cerdas,
berkarakter, tangguh, dan siap menghadapi masa depan.

Posting Komentar